Fakultas Agama Islam
Universitas Muhammadiyah Malang
Fakultas Agama Islam
Universitas Muhammadiyah Malang

Pendidikan Islam dalam Perbandingan


Serius: para peserta kuliah tamu terlihat sangat antusias dan memperhatikan materi-materi yang disampaikan.


Pendidikan Islam dalam Perbandingan

Berkembangnya lembaga pendidikan Islam membuat proses dalam pembelajarannya semakin banyak melakukan inovasi. Namun perkembangannya tidak selaras dengan internalisasi nilai-nilai di dalamnya. Melihat hal tersebut HimpunanMahasiswa Jurusan (HMJ)Tarbiyah FAI mengadakan kuliah tamu (04/12). Dengan mengambil tema pendidikan Islam antara ideal dan realita, kuliah tamu diadakan di Aula BAU. Dalam kuliah tamu tersebut didatangkan pemateri dari lembaga sekolah Hidayatullah dan Sekolah Alam Bilingual Surya Buana.

Dalam sambutannya M. Syarif selaku PD III menyatakan bahwa bila seseorang sudah memutuskan menjadi guru, maka dia harus selalu memperhatikan perilakunya. Guru dijadikan teladan bagi sekitarnya dan dituntut untuk selalu memberi contoh yang baik. Permasalahan yang ada saat ini adalah kurangnya pendidikan dalam memberi dampak positif. Kemungkinan hal tersebut dikarenakan guru belum menekankan karakter pada siswa,” ujarnya.

Alimin Mukhtar selaku tim kurikulum dari sekolah Hidayatullah mengemukakan bahwa pendidikan dalam Islam mencakup dua hal, yakni ruh dan jasad. Hal pertama yang harus dididik adalah ruh atau hati manusia. Kemudian materi yang diajarkan kepada anak didik harus bertujuan untuk mengenal Allah dan mengetahui manfaat dari ciptaanNya. Sedangkan pendidikan dalam Islam merupakan sebuah proses yang harus ditempuh melalui tata cara dan disiplin tertentu yakni adab. “Adab dalam menuntut ilmu ada enam yakni adab kepada ilmu, guru, diri sendiri, buku, teman dan belajar mengajar” ujar Alimin. Katanya, suatu pendidikan yang ideal juga perlu ada pustakawan dan motivator (wa’izh).

Direktur perguruan Sekolah Alam Bilingual Surya Buana, Abdul Djalil menceritakan suka duka dalam membangun madrasah yang dinaunginya. Pada awal pembangunan, santri yang masuk ke Surya Buana hanya empat anak, dan itupun dalam kondisi yang memprihatinkan. Awalnya santri tersebut hanya menggunakan tikar untuk tidur, namun dengan ketekunan dan kerja keras Djalil, akhirnya Surya Buana menjadi lembaga pendidikan yang berkualitas dan menghasilkan banyak prestasi.

Selain itu Abdul Djalil juga memberikan tips untuk mengembangkan madrasah yang sesuai dengan titik idealnya. Tips tersebut dinamakan DUIT, yaitu dedikasi yang tinggi terhadap tugas, usaha yang maksimal, ikhlas dan taqwa, tabah, telaten, teliti hingga tuntas. “Saya galakkan menabung bagi siswa, dan uang hasil tabungan tersebut saya pinjam untuk membangun fasilitas” ungkap Djalil.

Zohri Rahman selaku ketua pelaksana menganggap bahwa pendidikan agama Islam yang ada saat ini masih jauh dari harapan. Berangkat dari hal tersebut maka tema ini dipilih sebagai materi kuliah tamu. Menurut mahasiswa semester empat itu, saat ini guru hanya mengejar kemapanan ekonomidan tidak menghiraukan internalisasi ilmu pada peserta didik.“Saat ini guru hanya mementingkan ekonomi sehingga tujuan pendidikan belum dapat terealisasikan” ungkap Zohri. (Rahmi)

Shared: