Fakultas Agama Islam
Universitas Muhammadiyah Malang
Fakultas Agama Islam
Universitas Muhammadiyah Malang

Sekularisme, SudutkanUmat Islam

Sekularisme, SudutkanUmat Islam

Bertujuan menambah wawasan tentang perkembangan hukum Islam, Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Syariah kembali menggelar Kuliah Tamu bertema Hukum Islam Dalam Alam Pemikiran Islam Kontemporer di Aula BAU (29/2). Dibuka oleh Muhammad Syarif Pembantu Dekan III FAI, acara tersebut diikuti seluruh mahasiswa Syariah. Hadir sebagai pemateri anggota Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) JawaTimur, FauzanSaleh.

Sementara itu, Muhammad Syarif menekankan, mahasiswa Syariah harus tahu semua permasalahan hukum di dalam negeri dan luar negeri. Baik yang berkaitan dengan ekonomi, sosial, politik, maupun budaya.

Melalui judul “Di Antara Sekularisme dan Islamisme” Fauzan member gambaran kondisi umat Islam saat ini. Menurutnya, posisi umat Islam sangat dilematis, yakni dianggap sebagai Islamist (penghambat budaya Barat) dan diresahkan oleh Sekularisme (pemisahan antara dunia dan agama). “Mereka (orang Barat) menyebut Islam tidak sekedar Islam, tetapi Islamist dan Islamisme. Itu untuk mendiskreditkan umat Islam,” ujarnya.

Lebih lanjut, pria kelahiran Ponorogo itu memaparkan, melalui Sekularisme, orang Barat ingin agar Islam tidak dijadikan sebagai ideology yang mengatur segala aspek kehidupan. Baik dari sosial, budaya, politik maupun ekonomi. “Sehingga mereka mengatakan, oke silahkan Islam dipakai jadi agama, tapi jangan menerapkan syariat,” ujarnya

Tak hanya itu, istilah Islamophobia (sebutan bagi kelompok yang takut Islam) juga dimunculkan untuk menyudutkan  Islam. “Mereka menganggap bahwa Islam  itu statis, tidak mau berubah. Itu artinya selama ini umat islam didiskreditkan oleh bangsa Barat,” tandas Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah kota Kediri tersebut. 

Di akhir, lulusan S3 Universitas Mcgill Montreal Kanada itu meyakinkan, Sekularisme sebagai ideology akan mengalami kejenuhan. Manusia akan kembali rindu pada suasana sejuk dan damai ajaran agama. “Namun hal ini tak mungkin berkembang tanpa peran para mujahid dan pembaharu yang memahami dan mendakwahkan Islam secara kontekstual dan terbuka,” tegasnya saat menyampaikan materi. (Alip)
(Kuliah Tamu HMJ Syariah)

Shared: